Hasil Nilai Ujian Semester Genap 2011-2012 Aplikom dan Lab manajemen
Motivasi dari dalam diri
Dua kelompok anak SD diminta untuk membaca suatu tulisan. Satu
kelompok diberitahu bahwa mereka akan diuji mengenai bacaan mereka; kelompok
lain tidak diberitahu mengenai ujian tersebut. Saat kedua kelompok itu diuji,
kelompok yang diberitahu akan ada ujian menunjukkan ingatan mekanik yang lebih
baik, tapi kelompok yang tidak diberitahu akan ada ujian memiliki pemahaman
yang lebih baik mengenai konsep yang terkandung didalam bacaan. Yang menarik,
satu minggu setelah ujian, para peneliti kembali lagi untuk menguji
masing-masing kelompok tadi.
Seperti yang mereka kira, tidak satupun dari anak-anak itu
mengingat bacaan sebanyak ujian yang pertama. Meskipun begitu, yang
mengherankan adalah, anak-anak yang pada awalnya diberitahu akan ada ujian
sudah banyak yang lupa daripada anak-anak yang hanya membaca bacaan tanpa
diminta ikut ujian.
Dalam penelitian demi penelitian –di rumah, di sekolah, di
tempat kerja- hasilnya serupa: orang-orang yang diizinkan untuk membuat
keputusan mengenai cara mereka bersikap dapat bekerja lebih kompeten dan lebih
efektif daripada mereka yang perilakunya dikendalikan dengan ketat dan dinilai
oleh orang lain.
Banyak sekolah yang mencoba meningkatkan prestasi
murid-murid-nya dengan cara menawarkan hadiah dan uang untuk mereka yang punya nilai
bagus. Pikirkan sejenak ide ini! Bukankah seperti ini agak melenceng dari misi
pembelajaran yang seharusnya terjadi? Belajar menjadi bukan sesuatu yang
dipilih oleh seorang individu normal, namun berdasarkan ketertarikan akan
hadiah, sertifikat dan penghargaan sebagai bintang kelas. Hal yang hampir mirip
juga terjadi didunia kantor dan perusahaan.
Meskipun penghargaan yang dibuat untuk mempengaruhi perilaku
orang bisa efektif dalam jangka pendek, namun penerapan yang berlanjut bisa
menjadi kurang efektif untuk memunculkan perilaku yang diinginkan, pada
kenyataannya malah bisa mencegah munculnya perilaku tersebut. Yang terjadi,
sistem imbalan memfokuskan perhatian pada penghargaan dan bukan pada tugas
awal.
Mahasiswa mulai terfokus untuk menjaga nilai indeks
kumulatifnya, berkonsentrasi untuk menulis makalah, mengerjakan praktikum yang
akan memberikan nilai-nilai tinggi dan sekedar mencapai batas minimal untuk
lulus mata kuliah. Begitu dia menerima nilai yang diinginkan atau begitu dia
lulus ujian, apa yang dia pelajari cepat dilupakan untuk mempersiapkan mata
kuliah berikutnya, ujian berikutnya, dan nilai berikutnya. Para pekerja yang
mencari bonus-bonus perusahaan mulai terfokus untuk memaksimalkan penjualan
dengan merusak kepuasan pelanggan, yang akan berujung pada penurunan penjualan
dalam jangka panjang.
Faktanya memang demikian, bukan? Cara-cara pemberian hadiah dan
bonus mematikan tumbuhnya motivasi orisinil dari diri. Individu tidak diberi
kesempatan untuk mengerti alasan perilaku yang diminta dan tidak diberi
kesempatan untuk bekerja sama secara sukarela. Motivasi diri memiliki dua
komponen utama: keaslian dan otonomi. Yang dimaksud dengan keaslian, seseorang
harus bertindak sesuai dengan diri mereka sendiri secara jujur dan bukan hanya
sekedar menginternalisasikan nilai-nilai orang lain.
Yang dimaksud dengan otonomi adalah individu harus mengendalikan
perilakunya sendiri, memutuskan apa yang harus dilakukan dan bagaimana harus
bersikap. Secara praktis kedua komponen ini dapat diterapkan dengan menggunakan
apa yang disebut dengan tiga C: content (isi), collaboration (kerjasama), dan
choice (pilihan). –tiga C itu bukan cemen,culun, dan cengeng– Jadi pada tahap
awal, individu diajak untuk mengerti content (isi) dalam arti tujuan, sasaran
atau obyektif suatu pelajaran atau suatu pekerjaan. Lalu dijelaskan tentang
pentingnya collaboration (kerjasama) untuk mencapai tujuan tersebut dengan
tidak membatasi atau menutup pilihan-pilihan (choice) alternatif mengenai
bagaimana cara mencapai sasaran tersebut serta menimbang pilihan mana yang
paling efektif dan efisien. Dari sini kreatifitas menemukan ruang aktualisasi
yang lebih lebar.
Dengan cara ini, dosen, guru, professor, manager, atasan,
direktur, mengambil porsi peranan yang lebih besar sebagai mitra kerja tanpa
mengurangi peran kepemimpinannya dalam mengambil keputusan. Dalam lingkup cara
mendidik, pendidikan tanpa sekolah membuka peluang lebar-lebar dalam
menumbuhkan motivasi diri, sementara sekolah konvensional cenderung kurang
membuka peluang tersebut.
Sumber: motivasi dari
dalam diri
Nilai Hasil Ujian Semester Genap 2011-2012
Untuk Aplikom Buka Dibawah ini :
NILAI APLIKOM
Untuk Lab Manajemen Buka Dibawah ini :
NILAI LAB MANAJEMEN
Komentar
Posting Komentar